The Emptiness / Episode 2

        Beberapa menit telah berlalu. Aku masih duduk mematung, sambil memeluk tubuh kekasihku di kamar. Tatapanku kosong, menatap matanya yang juga kosong. Aku memeluknya lebih erat. Tubuhnya terkulai lemas tak berdaya dipelukanku. Pikiranku berputar kacau saat aku mengusap air mata dengan lengan bajuku. Aku rebahkan tubuhnya, lalu mencoba berdiri. Mataku kunang-kunang seketika saat berdiri, melihat tubuh kekasihku tergeletak, yang kini hanya beban mati.

        Rasanya sungguh menyakitkan. Aku menggendong tubuhnya keluar kamar tidur, melewati ruang utama yang terdapat beberapa alat putar pembuat tembikar, dimana kami selalu bermain tanah liat bersama disini. Lalu aku berjalan menuju ruang pembakaran tanah liat, dimana tungku sebesar lemari pakaian raksasa untuk membakar tanah liat menjadi keramik, tersimpan kokoh disana. Keputusan dalam kepanikan membuatku berpikir cukup gila: “jika aku membakar mayatnya di dalam tungku keramik ini, maka tidak akan ada saksi mata kan?” Lalu kumasukkan tubuhnya ke dalam tungku pembakaran tanah liat itu.

        Tepat dihadapan mataku, kini terpampang pemandangan kekasihku yang sedang meringkuk sendirian, sepi, tak bernyawa didalam tungku pembakaran tanah liat, dengan hiasan darah yang menempel di dinding-dinding bagian dalam tungku. Pemandangan mengerikan itu membuatku tak tega untuk melenyapkannya dengan kobaran api begitu saja. Aku bertekuk lutut dan menangis di depan tungku pembakaran yang masih terbuka, sambil kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi saat aku tertidur semalam.

        Setelah kucoba berpikir lagi, akhirnya kuputuskan untuk menguburnya saja di ruang bawah tanah studio pottery ini. Aku coba menggendongnya kembali, namun tenaga fisikku sudah habis, seolah seluruh tubuhku terkuras oleh semua misteri rentetan kejadian sejak pagi tadi. Aku kembali ke kamar untuk mengambil seprai, lalu kembali ke area pembakaran untuk membungkus jasad kekasihku, mengikatnya dengan tali, lalu kugendong kembali untuk dibawa ke ruang bawah tanah.

        “Sial. Mayat ini cukup berat juga ternyata”. Alih-alih kugendong, kuseret saja tubuhnya menuju ruang bawah tanah, menuruni 13 anak tangga kayu, hingga mayatnya tergeletak di lantai bawah tanah. Ruang minim cahaya membuatku cukup kesulitan untuk menggali kuburannya. Menggunakan peralatan yang ada seperti batu dan linggis, aku mulai menggali lantai, mengeluarkan satu demi satu batu bata di permukaannya, dan mengeluarkan tanah dibawahnya. Terkadang aku menoleh ke sekeliling. Rasanya seperti ada sesuatu, atau seseorang yang mengawasiku. Sialan. Jangan sampai ada saksi mata. Ah, aku yakin ini hanya paranoidku saja.

        Aku terus menggali dasar lantainya, hingga ukuran lubangnya cukup untuk menguburkan mayat orang dewasa. Kemudian aku kembali menuju tubuhnya yang masih tergeletak di dekat anak tangga. Rasanya, ia memaksa diriku untuk membuka kembali kain seprainya untuk sekali lagi menatap matanya. Aku berlutut disampingnya, membuka sedikit kain di bagian wajahnya. Kami disinari cahaya lampu dari pintu diatas tangga ruang bawah tanah ini, seakan cahaya memberikan kesempatan padaku melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya.

        Pemandangan yang indah, sekaligus mengerikan. Aku tatap matanya, dan mencium keningnya untuk yang terakhir kali. Air mata menetes di wajahku dengan lembut seakan hanya air mataku sendiri yang dapat memberikan kehangatan dalam suasana yang dingin dan mencekam di ruang bawah tanah ini.

        Jariku yang masih dilapisi darah kering bercampur tanah, perlahan menutup kedua mata indahnya. Lalu aku tutup kembali dengan kain seprai tadi, lalu mengangkat jasadnya, dan memasukannya ke dalam lubang yang tidak sempat kugali cukup dalam karena saking paniknya diriku. Lalu aku mulai menguburnya, menimbunnya dengan tanah sedikit demi sedikit, dan menyusun kembali batu bata di bagian atasnya.

Hening. Dingin. Seluruh sudut ruang bawah tanah yang lembap serta kesunyiannya, membuat segalanya terasa semakin menyesakkan. Kini aku telah menguburnya. Lalu aku berjalan menaiki anak tangga hingga ke pintu. Saat aku membuka pintu dan melangkah ke lorong menuju ruang utama, aku mencoba melihat ke arah luar melalui jendela di ruang pottery.

Tak terasa, ternyata langit sudah kembali gelap.