The Emptiness / Episode 3

        Masih terpaku di depan jendela, aku benar-benar tak sadar jika waktu telah berlalu begitu cepat. Aku bahkan baru sadar, jika aku sama sekali belum makan ataupun minum.

        Aku mondar-mandir di ruang utama. Setiap sudut ruangan dan objek-objek yang kulihat kini terasa menyakitkan, karena memiliki cerita kenangan tersendiri bersama kekasihku. Aku melihat bayangan diriku bersamanya, muncul di atas alat putar pembuat tembikar. Melihat diriku sendiri bersamanya berlomba membuat sebuah vas bunga, rasanya menyenangkan sekali. Aku mulai berhalusinasi. Mungkin semua ini karena aku tidak bisa menerima kenyataan. Rasanya, semua karya-karya kami di tempat ini ingin kuhancurkan saja.

        Aku kembali ke kamar, berharap dapat mengingat detil kecil yang dapat menjadi petunjuk atas tragedi mengerikan ini. Aku mengunci pintu kamar dan memejamkan mata rapat-rapat. Kepalaku terasa berputar, rahangku mengatup keras. Gelombang perasaan mengerikan itu kembali merambat di sepanjang tulang punggungku.

        Aku bersandar didepan pintu kamar yang telah kukunci dari dalam, lalu membiarkan tubuhku terjatuh dan duduk bersandar ke pintu. Aku masih tidak percaya atas kematiannya. Aku masih ingat dengan jelas, semalam kami membuat tembikar, bercengkrama, makan malam bersama. Setelah itu kami berjalan kaki berdua keluar sejenak, karena langit malam sedang bagus-bagusnya. Aku masih ingat kami berjalan bergenggaman tangan sambil menatap, dan menghitung jumlah bintang yang hilang di langit.

Seharusnya aku menikahimu, bukan mengubur tubuhmu“.

        Lamunanku seketika disadarkan oleh sesuatu yang baru kusadari ada di depan mata. Piring keramik berwarna putih buatan kekasihku ternyata sudah ada di lantai. Mungkin terjatuh sejak malam, karena seharusnya piring itu tersimpan di meja tepat di sebelah ranjang kami. Namun piringnya kini sudah berada di lantai dan terbelah menjadi tiga bagian. Anehnya, hanya terdapat dua patahan yang kutemukan, yaitu bagian atas dan bawah dimana pecahan tengahnya tidak dapat kutemukan.

        Sudah kucari pecahan yang hilang di seluruh sudut kamar. Di bagian bawah ranjang, sudut-sudut lemari pakaian, namun tidak juga kutemukan. Aku terdiam dan bulu kudukku merinding seketika. Jangan-jangan ada orang lain selain kami didalam rumah ini?

        Tidak mungkin. Semua pintu telah kami kunci. Dan jika memang ada orang lain yang membunuh kekasihku, mengapa aku tidak dibunuh juga malam itu? Tak masuk akal bukan? Dan untuk apa? Jika memang tujuan si pembunuh ini hanya menghilangkan nyawa kekasihku dan membiarkanku hidup, maka itu adalah siksaan yang amat keji. Membiarkanku tetap hidup untuk menyaksikan kekasihku mati mengenaskan, agar aku gila secara perlahan. Cerdas sekali.

        Aku tertawa sambil terpaku ke arah cermin kamar saat memikirkan hal itu. Sialan. Aku dipermainkan oleh si pembunuh ini. Tapi siapa? Bukankah hanya ada aku dan kekasihku disini? Tidak. Sudah pasti kekasihku dibunuh kan? Buktinya, bagian pecahan dari keramik buatan kekasihku tidak kutemukan. Aku yakin pembunuh ini menggunakan pecahan yang hilang itu untuk membunuh kekasihku. Sepertinya logikaku masih bekerja dengan baik. Aku sangat yakin, bahwa kekasihku telah dibunuh oleh seseorang tak dikenal saat kami tertidur.

       Batas kesabaran seorang pria tak dapat diukur oleh tingginya langit atau dalamnya lautan. Namun amarahnya dapat dipaksa meledak dengan cara yang cukup sederhana. Culik anggota keluarganya, bunuh hewan peliharaannya, atau rampas kekasih yang ia jaga sepenuh hati.

        Penyiksaan tak langsung seperti itu adalah cara yang efektif untuk menghancurkan kewarasan tak berujung sehingga membuat manusia merasa mati dalam kehidupannya. Namun bangsatnya… aku adalah korbannya.

        Siapapun itu yang telah merenggut kekasihku, akan kuhabisi dia. Sebab pada titik ini, pembunuhan akan terasa lebih suci daripada semua siksa batin yang telah ia lakukan kepadaku. Aku, akan menemukan pelakunya.