The Emptiness / Episode 1

        Jakarta, 24 April 1989. Sinar mentari masuk melalui jendela kamarku di pagi hari. Perlahan, aku menyingkirkan selimut dan memutar tubuhku ke samping, menghadap kekasihku: Annabel. Rambut panjangnya terurai di atas bantal. Gaun putih manis yang ia kenakan sangat selaras dengan alas seprai di bawahnya. Aku mencium pundaknya sambil mengucap selamat pagi. Sisi kamar ini tetap gelap karena cahaya pagi hanya berhenti di tepi ranjang, seolah enggan menyentuhnya.

        Aku mencium pundaknya lagi, lalu tanganku perlahan bertumpu di bahunya. Aku tidak sabar untuk membangunkannya, karena kemarin aku baru saja membuat karya tembikar terbaru untuk aku pamerkan padanya pagi ini. Karena hari ini, adalah hari ulang tahunnya.

        Aku memeluknya dari samping, namun kulitnya terasa lebih dingin, tidak seperti biasanya. Aku memanggil namanya, namun ia tidak merespon. Rasanya ada sesuatu yang terasa tidak beres. Aku memanggil namanya lagi dengan lebih keras, namun ia tetap tak merespon. Suaraku mulai bergetar. Aku menarik selimutnya, dan sesuatu yang hangat mulai terasa menyentuh tanganku.

        Mataku terpaku ke hamparan seprai yang kini dipenuhi noda warna merah. Namanya terlepas dari tenggorokanku saat panik menguasai, dan air mata mulai mengaburkan pandanganku selagi aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Kekasihku tidak mungkin mati. Aku tidur disampingnya semalam“, lirihku. Bau darah segar yang mengalir di tanganku begitu nyata menyengat. Napasku terasa sesak dan aku mulai panik.

        Aku menciumnya lagi dan terisak pelan saat memeluk erat tubuhnya yang tak bernyawa itu. Kulit putih pucatnya masih tampak cantik diterpa cahaya matahari pagi. Ketika aku sandarkan tubuhnya dalam pelukanku, darah mulai menetes dari sudut bibirnya yang lembut dan sempurna itu. Aku mulai terengah-engah mencari udara. Gemetaran, muntah, memejamkan mata rapat-rapat, berharap semuanya hanya mimpi buruk. Dadaku mulai terasa sakit, perutku terasa mual saat aku menatap kedua tanganku yang dipenuhi oleh darah kekasihku sendiri.

        Diriku mulai dikuasai amarah dan tanda tanya akan siapa orang yang membunuh kekasihku semalam. Seingatku, semua pintu sudah ditutup rapat dan terkunci. Tidak ada siapapun selain kami di rumah ini. Jika memang tidak ada siapapun selain kami, maka pelakunya adalah… “aku” kan? Akulah satu-satunya pria yang ada di kamar ini.

Aku, seorang pottery artist, telah membunuh kekasihku sendiri, Annabel.