Kepada Nyonya Lia selaku mami angkatku, Teteh Ipi, Bang Sonny, juga Derek & Jasmine, terimakasih sudah menjadi support system dan menerimaku sebagai anggota keluarga baru kalian saat aku hampir kehilangan nyawa dan harapan, serta memberikan ruang di safehouse kalian untuk sembuh secara mental trauma pasca kasusku di awal 2022. Terimakasih sudah menyambutku dengan peluk hangat saat pertama masuk ruang tamu kalian setelah perjalanan entah berantah itu. Terimakasih karena saat itu kalian masih melihatku sebagai manusia, bukan monster. Salam rindu dariku, Bondan.

Jurnal ini tidak dapat aku share pada semua orang maka aku hanya spill garis besarnya saja.

        Beberapa bulan sebelumnya, kekasihku tidur dengan suami orang. Kami semua satu pekerjaan. Posisi / jabatan tinggi membuat mereka merasa memegang kendali terhadap lingkungan, yang akhirnya membuatku kehilangan kenyamanan, hingga akhirnya, pekerjaanku juga. Beruntung sekali mereka, aku tidak membongkarnya kepada keluarganya masing-masing. Padahal aku punya semua buktinya di lantai 4 hotel di Jl. Supratman di kota sialan itu, dan basecamp mereka di sebuah hotel di Jl. Pasirkaliki, karena aku berhasil menyogok manager hotelnya.

        Belum lagi, seluruh chat kotor dan permainan di belakangku, masih tersimpan rapi dalam harddisk external, dan masih kusimpan hingga kini. Sialnya jika kusebarkan (saat itu), aku akan berurusan dengan hukum dengan level yang lebih berat, karena menyangkut data privasi dari hotel-hotel tadi. Akhirnya saat itu, aku bungkam, karena tidak tahu harus bagaimana. Aku simpan saja lukanya, dan berubah menjadi amarah di setiap detiknya, lalu semakin menumpuk, semejnak November 2021.

        Amarah yang kupendam terlalu lama itu akhirnya meledak di awal 2022, dan terlampiaskan pada orang-orang sekitarku, hanya karena mereka men-trigger trauma tersebut (sengaja maupun tidak sengaja). Hingga di suatu malam, terjadi sebuah tragedi berdarah karena diriku “dibuat” gelap mata. Bangsatnya, beberapa akun media sosial memberitakan hal yang tidak sesuai fakta. Tuduhan pencurian dan pembunuhan berencana yang tidak didasari bukti yang kuat. Belum lagi, tidak adanya support system disekitarku, membuatku ingin hilang saja waktu itu dari dunia ini.

        Pagi harinya, aku pergi dari rumah tanpa pamit pada ibu dan bapak, lalu menempuh jarak pergi sejauh ±750 km (pergi) menggunakan motor beberapa hari tanpa arah tujuan yang jelas. Aku hanya berbekal ijazah, baju ganti, peralatan mandi di tas ranselku, serta jas hujan di dalam bagasi motor. Ah, aku masih ingat. Aku memakai gelang (yang sebenarnya hanya sebuah ikat rambut) milik temanku, sebagai teman perjalanan.

        Aku bertahan hidup di jalanan dengan berhenti di satu rumah makan, lalu ke rumah makan yang lainnya untuk meminta izin pemiliknya agar aku dapat membantu mencuci piring-piring kotor disana, agar dibayar seikhlasnya. Pola itu terus kulakukan untuk bertahan hidup. Setidaknya, aku dapat mengisi ulang bensin dan tetap dapat membuat perutku tetap terisi sepanjang perjalanan.

        Beberapa rumah makan yang kusambangi terkadang memberi bekal makanan tambahan, dan mendoakan aku supaya selamat kemanapun aku pergi. Beberapa orang baik itu beserta nama rumah makannya masih tetap kuingat hingga sekarang. Suatu saat, akan kubalas kebaikannya nanti jika aku memiliki rencana napak tilas akan perjalanan kelam ini.

        Aku melanjutkan perjalanan dengan masih membawa luka yang masih menganga, dan dendam yang amat luar biasa. Seluruh catatan ini awalnya kutulis tangan di buku catatan manual kecil yang sempat kubeli di sebuah minimarket di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur. Aku menulis sedikit demi sedikit jurnal ini setiap malam sebelum tidur di SPBU, sebagai check point untuk tubuhku beristirahat. Kutuliskan mulai dari apa yang aku alami hari itu dari pagi hingga malam, dan menuliskan apa yang batinku rasakan. (Terkadang aku menulis pesan juga untuk ibu dan bapak di rumah, yang mungkin tidak bisa tidur karena sangat khawatir diriku menghilang).

        Di titik lelah perjalanan (hari ke-3), sempat terpikir ingin mati saja saat di ujung Pulau Jawa sana. Bahkan saat beristirahat di warung kopi pinggir jalan, aku sudah mempersiapkan mentalku karena telah terpikirkan, dengan cara apa aku akan mengakhiri hidup. Seketika timbul pertanyaan dikepalaku semacam “ada kejutan apa ya diluar sana kalau aku melanjutkan perjalanan ini?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu di kepalaku berhasil mengalihkanku dan membuatku bertahan terus untuk melanjutkan perjalanan.

        Pada malam hari di hari ke lima perjalananku, aku berkunjung ke sebuah warung internet yang kutemukan di pinggir jalan raya, dan memberanikan diri untuk membuka akun sosial mediaku kembali. Banyak sekali pesan ancaman dan komentar-komentar buruk bagi mereka yang sama sekali tidak tahu akar masalahnya, hingga menyumpahi agar diriku mati saja. Ada pula yang mengirimkan doa, berharap aku baik-baik saja, bahkan menawariku tempat untuk tinggal sampai semuanya perlahan membaik. 

        Namun paranoid masih menguasai pikiranku saat itu, sehingga aku tidak percaya akan siapapun, termasuk orang terdekatku sendiri. Akhirnya, aku putuskan untuk memilih sosok yang tidak terlalu kukenal, yang kebetulan menawariku rumah singgah (aku menyebutnya safehouse), untuk tempat berlabuh. Kemudian, aku melanjutkan perjalanan yang kurang lebih sama jauhnya (±750 km), untuk pergi ke safehouse.

Dititik ini, aku bertemu dengan Derek, Jasmine & keluarga.

        Aku dipersilakan tinggal oleh mereka. Lalu ada Bang Sonny, yang meminjamiku alat komunikasi sementara. Di safehouse, aku mengabdi pada mami angkatku (Nyonya Lia), untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kecil disana. Regulasi emosiku diperbaiki, mentalku ditempa ulang, diriku diperbaiki lagi. Lalu aku dikenalkan dengan beberapa orang hebat, dan “nekat” di bidang tertentu, yang siap menjadi backup saat aku mengalami hal yang tidak baik-baik saja kedepannya, setelah keluar dari safehouse ini.

        Terimakasih juga kepada sahabat dan tangan kananku waktu itu, Ari Purnama. Sosok yang selalu menjenguk diriku di bukit dekat safehouse untuk menjadi jembatan komunikasiku dengan dunia luar, terutama keluargaku di rumah.

Hingga akhirnya aku pulang, dan menjadi diriku dengan versi yang baru saat ini.

        Ya. Cerita perjalananku ini didasari masalah percintaan masa lalu. Klasik dan memalukan. Namun karena ini masalah pengkhianatan, urusan semacam ini rupanya memiliki ruang tersendiri di dalam lubuk hati manusia, dan tidak dapat sembuh secepat itu. Itulah mengapa aku menuliskan jurnal ini, agar penyakit batin tersebut dapat kupenjara disini, dan menjadi pagar pemisah antar akal sehatku.

      Bagi kalian yang tahu kasusku, mungkin hanya mendengar desas-desus bahwa ini berakar dari masalah finansial. Kurang lebih, itu hanya secuil pengalihan agar keluargaku tidak larut dalam kesedihan jika mengetahui anggota keluarganya ini patah hatinya. Pikirku, jika yang mereka ketahui bahwa bebanku hanya sebatas masalah keuangan, maka aku yakin mereka tidak akan terlalu khawatir, karena mereka percaya anak laki-lakinya memiliki insting untuk bertahan hidup sendirian diluar sana.

        Kepada tyas & teguh. Semoga aku menjadi korban perselingkuhan terakhir hubungan gelap dan nafsu ego kalian. Perlakuan semacam itu disadari atau tidak pada akhirnya pelan-pelan meracuni kebanyakan generasi saat ini. Efeknya? kebanyakan orang menormalisasikan pengkhianatan, dan kelakuan seperti ini sudah menjamur dimana-mana. Andai ada itikad baik setelah aku pergi dari kantor itu, mungkin aku tidak akan semeledak itu.

Clue: Honey-Honey.

        Cerita lengkap dari perjalananku beserta bukti-bukti digital ini kukubur sementara waktu di pemakaman digitalku berupa jurnal berjudul “The Gloomy Sunday” yang telah kuselesaikan beberapa tahun lalu (2022). Jurnal hidupku yang satu ini hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu. (Terimakasih Bang Fael Sihombing, S.H, M.H) dalam meyakinkanku, untuk setidaknya menuliskan jurnal ini. Ternyata benar, menuliskan apa yang terpendam cukup untuk meredakan amarahku yang tak kunjung padam.

        Sekali lagi, terimakasih kepada Nyonya Lia dan keluarga, yang telah membuka mataku untuk belajar melihat realita bahwa di dunia ini, keadilan ternyata bersifat “relatif”. Ternyata, “kekuasaan” dapat disalahgunakan jika sudah berjabat tangan dengan “ego”, sehingga dapat menindas dan mengontrol kaum-kaum yang lemah seperti diriku di versi yang dulu.

        Terimakasih telah membekaliku power saat itu, namun sekaligus melatihku untuk bijak, agar aku belajar menjadi, “bukan siapa-siapa” ketika di dunia luar, sehingga aku dapat mengosongkan gelas untuk mempelajari ilmu baru dari sekelilingku. Seperti yang mami katakan: “kontrol diri, adalah kunci utama, agar aku tak membahayakan sekitar, diriku sendiri, dan orang yang aku sayangi”.

May God bless you, everyone.